Minggu, 24 April 2011

BUDAYA KASTA DI BALI

Kasta merupakan sesuatu yang tam­pak seba­gai bagian yang iden­tik dengan tradisi atau kul­tur budaya masyarakat Bali, dan bahkan tam­pak dekat dengan ajaran Hindu. Sehingga begitu iden­tik­nya sering disebut Hindu mengenal sis­tem kasta seba­gai bagian dari ajarannya.

Saat ber­kun­jung ke tem­pat adik sepupu saya, kami meng­gunakan hal-hal seperti ini seba­gai lelucon. Dalam garis sil­silah, adik sepupu saya memiliki garis sil­silah dari Sri Aji Kresna Kepakisan, yang merupakan raja Bali yang memerin­tah di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit (1293 – 1527).

Sedangkan sil­silah saya ber­ada dalam garis Karang Bun­cing, sebuah kepatihan yang meng­abdi pada Raja Bedahulu (Kerajaan Bedulu) dari Dinasti War­madewa, raja Bali sebelum penaklukan Majapahit atas tanah Bali. Yang konon, hingga Mahapatih Gajah Mada saja tidak mampu menaklukan kepatihan ini tanpa ber­siasat. Jika mem­baca Babad Sukahet atau Kekawin Gajah Mada, kisah ini ada di dalamnya.

Sepupu saya bilang, saya raja kamu patih­nya, jadi saya lebih ber­kuasa. Saya akan bilang, walau patih tapi kan rajanya ndak kamu. Sebenar­nya mung­kin mak­sud­nya hanya minta porsi pizza yang lebih banyak dan dapat tran­sfer pulsa gratis. Yah, kami pun ber­bin­cang sam­bil ter­tawa cekakak cekikik.

Men­dengar kisah kerajaan dan golongan-golongan di dalam­nya, seperti men­dengar dongeng nusan­tara lama. Dalam tatanan kerajaan Hindu di nusan­tara lama, selalu ada golongan para bang­sawan atau ningrat, rakyat jelata, kaum pedagang, dan kaum pen­deta atau brah­mana. Seper­tinya masyarakat terkotak-kotak dalam kelom­pok tertentu.

Sehingga ada kesan bahwa sebuah wilayah yang ber­napaskan Hindu selalu meng­hadirkan kasta. Ter­masuk kini di Bali yang cukup ken­tal ter­kesan adanya kelom­pok masyarakat dalam kasta. Namun apakah kasta itu sesung­guh­nya ada? Tentu saja kasta dalam penger­tian bahwa kelom­pok masyarakat didasarkan pada garis keturunan.

Saya bukan ahli sejarah, namun saya melihat dalam beberapa tulisan ada kebebasan orang untuk pin­dah dari golongan brah­mana ke golongan ksatria, atau pun sebalik­nya sejak zaman kerajaan dulu. Sri Aji Kresna Kepakisan sen­diri jika tidak salah ber­asal dari keluarga brah­mana yang kemudian men­jadi ksatria.

Dan setahu saya dalam sis­tem Hindu pun tidak ada istilah kasta, tidak ada sis­tem kasta. Ya, jika ada kelom­pok seperti brah­mana, ksatria, waisya dan sudra, itu hanyalah pem­bagian profesi dalam ting­katan yang setara. Di setiap masyarakat pun akan ada yang men­jadi penasihat, pemerin­tah, peng­gerak masyarakat dan masyarakat luas itu sen­diri. Apa kemudian yang men­jadi bupati lebih mulia diban­dingkan yang men­jadi tukang sapu di jalanan? Ya, kalau ada yang ber­pikir seperti itu, mung­kin dia sen­diri yang meng­kas­takan orang-orang di sekitarnya.

Dosen saya per­nah ber­kata, walau suatu kamu jadi dok­ter, ber­jas putih tam­pak rapi dan ber­sih, tapi yang ber­peranan paling pen­ting dalam rumah sakit tetap adalah orang yang sehari-hari ter­lihat kumal dan meng­epel lan­tai setiap ruangan dengan sabar dan telaten. Bagi saya itu benar, karena tanpa ruangan yang ber­sih dan rapi, maka apa yang dilakukan petugas kesehatan untuk para pasien­nya bisa jadi sia-sia. Penyapu dan pengepel lan­tai itu tidak bekerja untuk dilihat kehebat­nya, jika seorang dok­ter ingin belajar men­jadi lebih baik, maka ia mesti belajar juga dari yang mem­ber­sihkan ruangan­nya setiap hari.

Di antara manusia, tidak ada per­bedaan men­dasar yang mem­buat­nya men­jadi lebih mulia diban­dingkan manusia lainnya.

Kasta bisa ber­asal dari bahasa Latin, cas­tus yang ber­makna sesuatu yang murni atau tidak ter­cer­mar. Bagi peng­gemar novel & film Harry Pot­ter tentu mengenal istilah pure blood, yang mem­bedakan para penyihir yang ada dalam garis keturunan murni dalam keluarga para penyihir sejak zaman dulu. Ya, kurang lebih makna kasta seperti itu.

Konon, kasta mulai ken­tal di Bali pada zaman pen­jajahan Belanda, karena dengan mem­buat sis­tem kasta ken­tal, maka pen­jajah dapat mem­buat jarak pemisah antara raja dan rakyat­nya, sehingga mudah diadu domba dalam politik devide et impera pihak kolonial. Dan seper­tinya itu ber­hasil pada beberapa bagian.

Saya rasa masyarakat Bali setidak­nya mesti ber­cer­min pada sejarah. Ini seperti tefleksi kem­bali. Walau kasta tidak ada dalam sis­tem Hindu, namun apa yang diting­galkan setidak­nya mem­bawa pengaruh dalam tradisi. Dan walau tidak seken­tal dulu, mung­kin masih ada beberapa wilayah atau kelom­pok yang memang mem­per­tahankan kasta di Bali. Jika tidak masyarakat Bali akan sangat mudah dipecah belah lagi – jika ada yang ber­niat demikian. Dan saya rasa masyarakat manapun yang masih mengotak-ngotakkan manusia dalam galur kemur­nian seperti sis­tem kasta, pasti akan sangat labil akan perpecahan.


SUMBER :

BLOG BHILLABUS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar